Minggu, 20 Februari 2011

Teknologi


INOVASI BARU DARI SEBUAH JAM TANGAN

Inovasi baru berteknologi tinggi yang berawal dari sebuah jam tangan. Dikembangkan oleh sebuah perusahaan alat kedokteran di singapura, yang berhasil menciptakan sebuah jam tangan dengan kemampuannya untuk mendeteksi tekanan darsah penggunanya, tanpa menyebabkan rasa tak nyaman maupun rasa nyeri bagi penggunanya.
Menuruh health STATS Internasional, sebuah sensor kecil diletakkan di sisi bawah jam tangan tersebut., apabila arloji di lingkarkan di pergelangan tangan, sensor tersebut letaknya di atas arteri (pembuluh darah nadi). Lalu sensor tersebut akan mencatat pulsasi arteri dan mengubahnya dalam bentuk data yang bisa dibaca.
Berbagai data bisa tercatat dari sensor itu “mulai ukuran tekanan darah dan polanya, rata rata tekanan arteri, pola pulsasi dan detak jantung” ungkap dr.Ting Choon Meng, penemu jam tangan berteknologi canggih itu. Informasi yang dikumpulkan tersebut bisa digunakan sebagai indikasi adanya suatu penyakit. Seperti, kemungkinan stroke atau perlunya memeriksakan kondisi jantung lebih lanjut.
Selama ini dalam mengukur tekanan darah kadang kadang menjadi kondisi yang tidak menyenangkan bagi pasien. Pasalnya ketika dipompa udara . cuff yang dilingkarkan pada lengan menimbulkan rasa nyeri. Bahkan pada pasien yang harus menjalani operasi, pengukuran darah bisa dilakukan dengan memasukkan kateter (semacam selang) kedalam pembuluh darah lengan. Selain menyakitkan prosedur tersebut  menimbulkan terjadinya infeksi.
Dengan adanya sensor pada jam tangan tersebut, maka kemungkinan rasa sakit dan infeksi itu bisa diminimalkan. “selain itu arloji tersebut bisa memudahkan dokter memprediksi resiko penyakit para pasiennya. Arloji tersebut juga dapat memonitor tekanan darah dalam 24 jam”. Ungkapnya pada surat kabar Straits Time. Hal ini tentunya lebih akurat dibandingkan pemeriksaan rutin pasien tiap minggu atau tiap bulan.
“sebenarnya tujuan saya membuat jam tersebut, ingin mengetahui apa saja yang terjadi setelah pasien meninggalkan tempat praktik” cetusnya. Sehingga, peneliti dapat mendeteksi sekaligus mencegah timbulnya stroke ataupun serangan jantung pada pasien.
Sumber: Jawa Pos, 24 januari 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar