Jumat, 17 Februari 2012

Analisis Jurnal : Elastisitas



THE IMPACT OF FOOD PRICES ON CONSUMPTION: A SYSTEMATIC REVIEW OF REASERCH ON THE PRICE ELASTICITY OF DEMAND FOR FOOD

Penelitian ini dilakukan oleh seorang peneliti yang berusaha menganalisis tentang perilaku dan gaya hidup masyarakat di Amerika serikat akan konsumsi bahan makanan yang kurang sehat dengan bahan makanan sehat. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri dampak dari elastisitas harga barang terhadap permintaan akan suatu jenis makanan. Dengan tujuan untuk merubah gaya hidup masyarakat di Amerika Serikat dengan meningkatkan konsumsi bahan makanan sehat dan menurunkan konsumsi bahan makanan yang kurang sehat.
Fenomena yang terjadi di Amerika Serikat adalah, elastisitas harga pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat. Berdasarkan studi,31% yang memberikan perkiraan elastisitas harga daging sapi, 29% untuk daging babi, 14% untuk unggas, 10% untuk ikan, 15% untuk susu, 12% untuk keju, untuk sereal 12%, dan untuk buah dan sayuran 11%. Dari sini terlihat bahwa konsumsi pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat.
Dalam kasus ini, peneliti mengobservasi perubahan permintaan yang mungkin dapat terjadi dengan pemberlakuan kebijakan pajak dan subsidi. Dengan menetapkan sejumlah pajak kepada bahan makanan yang kurang sehat, maka diharapkan permintaan akan bahan makanan yang kurang sehat menurun seiring dengan kenaikan harga karena pajak. Sebaliknya subsidi diberikan kepada bahan makanan sehat dengan tujuan untuk menurunkan harga sehingga permintaan akan bahan makanan sehat dapat meningkat, sehingga diharapkan dapat mengubah gaya hidup masyarakat Amerika Serikat menjadi lebih baik.
Setelah dilakukan pemberlakuan subsidi terhadap harga buah dan sayur mayur menyebabkan penurunan harga sebesar 10%, dan berhasil meningkatkan permintaan akan buah dan sayur sebesar 7,0% untuk buah dan 5,8% untuk sayur, besarnya penurunan harga rupanya tidak meningkatkan permintaan secara signifikan sehingga harga buah dan sayur dikatakan inelastis.
Dalam hal ini jelas terlihat bahwa permintaan tidak bergerak secara signifikan meskipun telah diberikan subsidi terhadapnya. dari kasus tersebut dapat diasumsikan bahwa, harga bukanlah satu satunya faktor yang dapat menyebabkan buruknya gaya hidup sebagian masyarakat di Amerika serikat yang dinilai dari tingginya konsumsi bahan makanan tidak sehat seperti fast food, namun ada hal lain yang mempengaruhi, salah satunya ialah gaya hidup. Orang orang di Negara maju cenderung memilih bahan makanan cepat saji dengan alasan efisiensi, sehingga meskipun harga dirubah, tetap saja tidak akan mempengaruhi permintaan akan barang barang tersebut, sehingga sayuran dan buah buahan yang tergolong bahan makanan sehat bersifat inelastic


THE IMPACT OF OIL PRICE SUBSIDY REDUCTION POLICY ON PERFORMANCE OF WOOD PRODUCTS INDUSTRY

Jurnal ini membahas mengenai bagaimana kebijakan pemerintah mengenai penurunan subsidi atas Bahan Bakar Minyak akan berpengaruh terhadap kinerja industry hasil hutan kayu.
Subsidi harga BBM dihitung sebagai selisih antara penjualan dalam negri produk BBM dengan komponen biaya produk pengadaan BBM. Terdapat dua komponen biaya pokok, yang pertama yaitu:
·         Biaya pengadaan minyak mentah dan bahan baku lain
·         Biaya pembelian produk BBM
Sedangkan tiga komponen  biaya yang lain yaitu :
·         Biaya operasi pengadaan dan distribusi BBM
·         Biaya operasional
·         Faktor pengurang nilai BBM
Biaya operasional, kemudian dibedakan kedalam tujuh komponen. Empat komponen yang pertama yaitu :
·         Biaya pengolahan
·         Biaya angkatan laut
·         Biaya distribusi
·         Biaya overhead
Sedangkan tiga yang lain yaitu :
·         Biaya bunga
·         Depresiasi
·         Perubahan persediaan
Di dalam jurnal diketahui bahwa  pada Tahun Anggaran 1998/1999 besarnya subsidi harga BBM yang dibayarkan oleh pemerintah kepada Pertamina adalah Rp 27.5 triliun. Nilai subsidi BBM ini merupakan selisih dari penjualan BBM dalam negeri sebesar Rp 22.5 triliun dan komponen biaya BBM sebesar Rp 50 triliun.

Dengan pengurangan subsidi harga BBM sebesar 30% sehingga menyebabkan kenaikan harga BBM rata-rata 12%, jumlah anggaran subsidi harga BBM dalam RAPBN (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) tahun 2000 masih tinggi yaitu Rp 18.3 triliun. Kenaikan ini dikhawatirkan akan berpengaruh negatif terhadap kinerja hasil hutan kayu khususnya dalam hal penawaran dan permintaan. Ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa kenaikan harga BBM yang disebabkan karena penurunan subsidi yang diberikan pemerintah dapat menurunkan kinerja dalam industry pengolahan hasil hutan kayu. Diantaranya ialah, pertama, karena menurunnya potensi hutan alam yang menyebabkan biaya logging meningkat secara riil dari sebelumnya. Selain itu BBM memiliki kontribusi yang signifikman terhadap biaya permanen kayu, sehingga saat harga BBM meningkat maka akan meningkatkan biaya kontribusi yang lama kelamaan akan menurunkan kinerja industry tersebut.
Dampak penurunan kinerja industry hutan kayu atas meningkatnya harga BBM karena penurunan subsidi dapat dilihat dalam kurva berikut ini :


Dalam kondisi Permintaan konstan, pengurangan subsidi atau kenaikan harga BBM di industri kayu olahan hilir menggeser kurva penawaran kayu olahan hilir ke kiri dari Ss0 ke Ss1. Maka harga keseimbangan kayu olahan hilir meningkat dari Ps0 ke Ps1 dan keseimbangan penawaran dan permintaan turun dari qs0 ke qs1.
Dalam kondisi penawaran konstan, penurunan permintaannya menyebabkan harga kayu olahan hulu menurun dari Pp0 ke Pp1 dan keseimbangan permintaan dan penawarannya menurun dari qp0 ke qp1.
Dengan demikian disimpulkan bahwa secara umum, kenaikan harga BBM dengan adanya penurunan subsidi dari pemerintah cenderung bersifat inelastic hal ini dikarenakan terbatasnya barang substitusi dan komplementer dari BBM tersebut. Selain itu, total revenue sangat dipengaruhi oleh subsidi dari pemerintah kepada perusahaan industri kayu tersebut


THE IMPACT OF ADVERTISING ON CONSUMER PRICE SENSITIVITY IN EXPERIENCE GOODS MARKET

Jurnal ini membahas mengenai pengaruh dari aktivitas pemasaran iklah tv terhadap sensitivitas harga konsumen yang dihadapi sebuah merk. Sensitivitas harga konsumen yaitu kepekaan relative dari harga yang mempengaruhi keputusan pembelian dan kecenderungan untuk melakukan pencarian harga dalam menemukan harga yang lebih baik. Sensitivitas harga berpengaruh terhadap seberapa loyal suatu konsumen terhadap suatu barang atau merek tertentu, semakin rendah sensitivitas harga, maka dapat dikatakan konsumen tersebut semakin loyal terhadap suatu barang tertentu.
Penelitian ini dilakukan di Chicago dan Atlanta, yang menggunakan 18 merek pasta gigi, sikat gigi dan saus kecap sebagai sampel. Melalui penelitian ini kemudian didapatkan suatu hasi yang menyatakan bahwa adanya iklan, menyababkan suatu barang akan lebih dikenal oleh banyak orang seiring dengan peningkatan pada aktivitas pemasaran yang akan semakin meningkatkan ketersediaan informasi yang meningkatkan tingkat kepercayaan konsumen.
Tingkat kepercayaan konsumen inilah yang kemudian menyebabkan meningkatnya tingkat loyalitas konsumen akan suatu produk tertentu. Tentunya, ada beberapa faktor lain yang dibutuhkan suatu brand dalam membuat sebuah iklan dalam rangka menciptakan kepercayaan dari para konsumen untuk menggunakan produk tersebut, salah satunya adalah ketersediaan informasi. Ketersediaan informasi yang jelas akan kualitas produk juga memiliki pengaruh yang besar dalam membuat suatu iklan yang dapat menurunkan tingkat sensitivitas harga konsumen akan suatu barang.
Jika ditelaah lebih jauh, iklan dapat mempengaruhi tingkat permintaan suatu barang. Akan tetapi, pengaruh dari iklan tersebut sangat bergantung dari tampilan, kemenarikan, dan seberapa intens iklan tersebut. Dalam kasus ini, peneliti meneliti barang-barang yang elastis, sehingga iklan yang menguntungkan dan lebih berpengaruh pada elastisitas harga adalah iklan yang tidak menurunkan elastisitas permintaan. Hal ini terjadi karena ketika elastisitas harga suatu barang naik, maka permintaan barang tersebut akan turun karena terdapat barang-barang alternatif atau subtitusi lainnya. Sebagai tambahan, keadaan tersebut dapat menyebabkan produsen baru untuk masuk ke dalam pasar.
Kesimpulannya iklan yang dapat menarik konsumen akan menurunkan sensitivitas harga, intinya ialah, bahwa secara fundamental, iklan dapat mempengaruhi elastisitas harga permintaan untuk merek dalam dua cara berbeda. Prrtama, iklan dapat mempengaruhi parameter dari fungsi permintaan konsumen individu sedemikian rupa untuk membuat konsumen individu lebih atau kurang sensitive terhadap harga. Yang kedua ialah, adanya iklan dapat memengaruhi komposisi dari himpunan konsumen yang membeli merk, jika iklan menarik maka konsumen akan bersedia untuk membayar sejumlah uang tertentu atas barang tersebut sehingga menyebabkan peningkatan elastisitas permintaan atas barang dengan merek tertentu.

PRICE ELASTICITY DYNAMICS OVER THE PRODUCT LIFE CYCLE ; A STUDY OF CONSUMER DURABLES

Jurnal ini membahas mengenai bagaimana dinamika elastisitas harga pada siklus hidup suatu produk tertentu. Di dalam jurnal ini dibahas dua jenis penelitian oleh Perker tahun 1992 yang mempertimbangkan pembelian pertana suatu produk tertentu dan peneliian oleh Simon tahun 1988 yang mempertimbangkan daya jual merk sebagai faktor untuk menarik minat konsumen. Berdasarkan pengalaman yang ada, menunjukkan bahwa keseluruhan kategori harga penjualan bersifat elastis. Kematian pertama dalam nilai absolut, akhirnya nilai tersebut akan meningkat lagi jika produk tersebut menghadapi penurunan fase dari siklus hidup produk (karena barang subtitusi atau perubahan selera, dll). Model dasar dapat dengan mudah dimodifikasi untuk menghitung keseluruhan penjualan (pembelian pertama ditambah pengulangan pembelian). Jika tidak berubah, model dasar ini bisa digunakan dalam waktu 5-10 tahun dalam pemakaian tahan lama.
Berdasarkan pembelian pertama yang mendorong konsumen untuk melakukan pembelian kembali, menunjukkan bahwa hasil penelitian Simon tentang pentingnya daya jual merk, menjadi bukti empiris dari dinamika elastisitas barang tersebut. Contoh daftar barang sebagai berikut :
·         Frezeers            (-22,8)
·         Kompor           (-3,2)
·         Kulkas              (-2,3)
·         Setrika uap       (-2,2)
·         Blender           (-2,2)
Dari kelima barang tersebut yang memiliki elastisitas tertinggi adalah Frezeer. Karena Frezeer tidak mempunyai barang subtitusi, sehingga mau tidak mau konsumen menggunakan Frezeers untuk membekukan bahan makanan.
Dengan ini dapat disimpulkan bahwa, suatu produk pada umumnya mengalami tingkat inelastisitas tertinggi pada fase awal siklus hidup produk. Sedangkan produk tersebut mengalami elastisitas pada saat pembelian kembali pada fase puncak (maturity) di mana tingkat penjualan mencapai tingkat tertinggi. Setelah tahap maturity produk akan memasuki fase decline (penurunan). dalam fase ini, produsen perlu memperbaharui kembali produknya agar konsumen tidak mengalami kejenuhan dalam mengantisipasi upaya pesaing yang semakin ketat dalam mencapai tingkat elastisitas tertinggi.

ECONOMIC IMPACT OF TOURISM AND GLOBALIZATION IN INDONESIA
Jurnal ini membahas mengenai dampak dari globalisasi dan pariwisata terhadap perekonomian indonesia. Adanya globalisasi yaitu sutu keadaan yang ditandai dengan munculnya berbagai jenis teknologi yang memungkinkan pencarian informasi secara luas dan mengglobal rupanya tidak hanya memberikan dampak baik, di dalam jurnal ini, lebih banyak membahas mengenai dampak buruk globalisasi terhadap neraca perdagangan indonesia.
dengan adanya perdagangan bebas / liberalisasi perdagangan maka, pemerintah membuat kebijakan dengan mengurangi tarif impor dan pengenaan pajak pada komoditas domestik. Dan ini berdampak pada sisi produksi, dengan penurunan harga domestic maka membuat para produsen lebih kompetitif dalam bersaing dengan pesaing yang ada di pasar. Pada dasarnya hal ini dapat merangnsang produksi dalam negri dan meningkatkan lapangan pekerjaan yang dapat meningkatkan PDB. Dengan meningkatnya produksi dalam negeri maka menaikan pendapatan rumah tangga dan menciptakan lebih banyak permintaan dalam pasar domestic.Karena permintaan dalam negeri meningkat maka meningkatkan impor, tetapi ekspor menutun. Itu dikarenakan neraca pasar domestic lebih menguntungkan bagi produsen.Oleh karena itu neraca perdagangan memburuk.
Semakin berkurangnya pajak yang diterima oleh pemerintah juga semakin memperburuk kekurangannya .Dengan kurangnya pajak yang diterima pemerintah membuat pemerintah kurang mampu membiayai aggaran pengeluarannya tapi memiliki sisi positif pada kesejahteraan dalam negeri dan konsumsi rumah tangga meningkat .Untuk menyeimbangkan neraca perdagangan yang buruk itu, sector pariwisata bisa menjadi solusinya.Seperti yang telah dijelaskan dijurnal bahwa kenaikan permintaan pariwisata asing akan membuat produksi yang lebih dan penyerapan tenaga kerja domestic meningkat.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan adanya hubungan antara harga yang menurun, permintaan, dan income yang berjalan semakin tinggi dalam kasus ini maka dapat dikatakan  bahwa ini bersifat elastis. Untuk mencegah terjadinya inelastic maka pemerintah seharusnya membuat kebijakan untuk menaikan harga saja dan menurunkan tarif pajak.

ESTIMATING THE EFFECT OF URBAN DENSITY ON FUEL DEMAND
Jurnal ini membahas mengenai bagaimana kepadatan penduduk di perkotaan dapat mempengaruhi permintaan relative untuk bahan bakar transportasi jalan yang memberikan perkiraan elastisitas yang sensitive terhadap pola fasilitas umum. Penelitian ini mengambil sampel dari 32 negara negara besar di Eropa, Asia dan Amerika.
Bahan bakar konsumsi per kapita terhadap kepadatan perkotaan diperkirakan dalam rentang -0.33 sampai  -0.35. Kepadatan penduduk kota terhadap permintaan bahan bakar yaitu inelastic, fenomena di kota yang terjadi, karena banyaknya fasilitas yang disediakan oleh pemerintah maka jarak yang di tempuh penduduk di perkotaan relative singkat. Pemakaian transportasi umum dapat menghemat pemakaian BBM sehingga dalam pemakaian BBM lebih efisiensi.
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa harga BBM memengaruhi sebagian besar permintaan melalui variasi dalam konsumsi bahan bakar per km dan jarak mengemudi, dan bukan dipengaruhi oleh seberapa banyak orang yang memiliki kendaraan, yang menjadi contoh dalam kasus ini adalah kepemilikan mobil, sehingga dapat dikatakan bahwa harga bahan bakar tidak mempengaruhi permintaan akan mobil.


IMPACT OF ADVERTISING ON PRICES

Jurnal ini membahas mengenai dampak dari iklan terhadap harga suatu produk, dari penelitian ini, dianalisis alasan yang mendasari mengapa konsumen memutuskan untuk melakukan permintaan akan suatu barang ataupun tidak. Respon konsumen terhadap promosi menekankan kepada merk dam banyaknya jumlah produk terhadap potongan harga yang ada pada produk tersebut, informasi tersebut yang kemudian dijadikan suatu  pertimbangan bagi produsen dalam menentukan strategi periklanan Salah satu strategi yang diperlukan adalah positoning yang tepat guna karena akan mengarahkan fungsi suatu iklan, sebab hal tersebut memiliki dampak terhadap sensitivitas harga konsumen.
Pada umumnya sensitivitas harga sebagian besar dirasakan pada kalangan masyarakat menengah kebawah, konsumen menengah kebawah sangat peka akan harga dan alternatif produk. Para konsumen ini biasanya membeli produk pada saat produk tersebut ditawarkan dengan harga yang lebih murah. Namun lain halnya bagi masyarakat menengah keatas yang mempunyai persepsi sendiri tentang harga, dimana mereka menilai harga yang mahal mengidentifikasikan kualitas dari produk tersebut.
sebuah merek yang memiliki pencitraan  yang kuat dengan konsumen maka cenderung memiliki pangsa pasar yang lebih tinggi dan lebih mudah untuk mencapai penetrasi pasar yang lebih besar dan akan menghasilkan pengeluaran biaya yang lebih efisien dalam mempromosikan produk tersebut. Penelitan dimasa depan harus lebih berkonsentrasi pada aspek karakteristik iklan yang dapat mempengaruhi sifat atau besarnya interaksi dari iklan tersebut
Pada tahun 1950-1970 menurut Steiner iklan sangat meningkat karena adanya peran sponsor dalam pembiayaan, karena iklan tidak hanya digunakan untuk menjual produk tetapi juga kepentingan-kepentingan lainnya seperti politik.
Berikut ini adalah kurva yang menggambarkan iklan mempengaruhi elastisitas konsumen dalam melakukan permintaan.

Dan berikut ini adalah grafik yang menunjukkan tingkat kepercayaan konsumen terhadap iklan


Kenaikan pada rating iklan ini dapat muncul akibat dari penilaian dari pihak konsumen yang menilai apakah iklan tersebut memiliki citra yang kuat, jadi semakin tinggi nilai rating maka kepercayaan semakin sangat tinggi, hal ini akan mempengaruhi elastisitas konsumen dalam membeli barang karena semakin konsumen percaya akan suatu produk maka daya belinya akan semakin tinggi.


REGIONAL DIFFERENCES IN PRICE ELASTICITY OF DEMAND FOR ENERGY

Jurnal ini membahas mengenai perbedaan elastisitas harga pada permintaan akan energy regional. Penelitian ini dilakukan oleh Depertement of energy yang meneliti beberpa sumber energy rumahan, gas alam dan industry dalam upaya untuk mengurangi biaya dengan tujuan efisiensi. Upaya yang dilakukan dalam rangka mengatasi solusi kenaikan harga listrik, dalam jurnai ini dibagi menjadi tiga alternative solusi, diantaranya ialah dengan mengganti secara total sumber energy yang digunakan, mencari substitusinya ataupun meminimalisir penggunaan listrik. Namun permasalahannya adalah Kenaikan harga tidak signifikan mempengaruhi penurunan demand.Kalaupun ada kenaikan harga, konsumen tidak dapat mengurangi pemakaian listrik secara drastic hanya dapat berhemat atau menambahkan alat yang bisa mengefisiensi penggunaan listrik, dan dalam jangka panjang mereka akan mengkonversi listrik dengan sumber energy lainnya.Kenaikan demand dapat dipengaruhi oleh kenaikan income, income meningkat konsumen dapat saja membeli peralatan elektronik baru sehingga meningkatkan penggunaan listriknya (demand). Elastisitas dipengaruhi dengan adanya barang substitusi dan barang komplementer.
Sehingga didalah kasus ini disimpulkan bahwa dalam jangka pendek, harga sumber energy ini akan bersifat inelastic karena untuk sementara waktu konsumen tidak memiliki pilihan hanya dapat mencoba menghemat atau mengurangi penggunaan listrik dan belum banyak barang substitusinya sehingga konsumen tidak memiliki pilihan lain selain tetap menggunakannya. Sedasngkan dalam jangka panjang, akan lebnih bersifat elastic karena memungkinkan adanya inovasi inovasi baru yang dapat menjadi substitusi untuk listrik.

THE RELATIVE IMPORTANCE OF PRICE AND QUALITY IN CONSUMER CHOICE OF PROVIDER : THE CASE OF EGYPT

Jurnal ini membahas mengenai pentingnya relative harga dan kualitas pilihan penyedia layanan konsumen dalam kasus mesir. Kompetisi telah menjadi kata kunci untuk mengurangi inflasi biaya dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dalam dua dekade terakhir.Negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, Singapura, Swedia,dan negara-negarakurang berkembang, seperti beberapa republik bekas Uni Soviet, Kolombia, Chili. Semuanya memelukdalam reformasi sektor kesehatan baru-baru ini konsep mempromosikan kompetisi. Perawatan kesehatan itu sendiri terdiri dari dua sektor, yaitu sektor publik dan swasta. Ada dua kendala yang ditemui yaitu permintaan pasar untuk layanan dan penyediaan input. Hipotesa dari kasus yang ada di Mesir adalah, masyarakat Mesir lebih memilih sektor swasta dan rela membayar lebih tinggi demi mendapat kualitas yang terbaik. Hal itu dikarenakan penghasilan masyarakat Mesir yang rata-rata sudah mencukupi.
Jika penyedia melakukan penurunan harga maka akan ada pengorbanan kualitas. Sebaliknya, jika penyedia meningkatkan kualitas maka akan ada pengorbanan harga yang lebih tinggi untuk meningkatkan layanan atau penambahan teknologi. Ada pula asumsi yang dapat diberikan adalah penyedia terlibat dalam persaingan harga. Berdasarkan asumsi ini, misalnya elastisitas kualitas meningkat, maka penurunan harga kemungkinan besar dicapai dengan efisiensi. Tapi kalau permintaannya inelastis, persaingan harga dapat menyebabkan kualitas yang rendah. Lain halnya jika penyedia cenderung lebih dalam persaingan kualitas, hal itu akan sangat penting untuk memahami aspek-aspek yang diinginkan konsumen. Jika konsumen responsif terhadap aspek kualitas yang meningkatkan hasil kesehatan, pemerintah mungkin lebih mengandalkan kekuatan pasar untuk menjamin kualitas layanan.
Pada jurnal ini ada hipotesa proporsi relative bawha sector swasta memegang angka lebih tinggi dan rela membayar lebih tinggi dibandingkan memilih sector publik yang kualitasnya terhitung rendah. Setelah itu pada penelitiannya ditemukan bahwa pasien lebih responsive pada perubahan kualitas daripada perubahan harga. Ini disebabkan karena yang dibahas disini adalah sector kesehatan yang mempertaruhkan nyawa, maka pengorbanan berupa materipun rela dilakukan. Selain itu pada penelitian terdalulu juga ditemukan bahwa elastisitas pendapatan pengeluaran perawatan kesehatan > 1 , dimana itu berarti bersifat elastis. Ini berarti seiring dengan bertambahnya pendapatan, maka porsi dari pendapatan juga akan lebih besar untuk pergi ke pelayanan kesehatan.
Tetapi hal ini tidak berlaku rata pada seluruh kalangan masyarakat, walaupun rata-rata masyarakat memang lebih responsive terhadap peningkatan kualitas, ini dikarenakan ada dua golongan income masyarakat seberti dijelaskan pada gambar dibawah ini
Indikasi dari kualitas ini terbagi menjadi dua, yaitu:
·         Indikasi kualitas : kualitas dokter dan obat.
·         Indikasi intrapersonal : kualitas pelayanan, teknologi, kenyamanan, dll.
Jika sector publik ingin dapat bersaing dengan sector swasta maka mereka harus bisa manjamin kualitas layanan dengan baik, atai jika tidak sasaran mereka untuk pangsa pasar harus lebih dispesifikasi lagi dengan menyasar masyarakat miskin yang memang belum mampu untuk melakukan pelayanan kesehatan dengan kualitas tinggi yang meminta biaya tinggi pada sector swasta.


LONG TERM FUEL PRICE ELASTICITY ; EFFECT ON MOBILITY TOOL OWNWRSHIP AND RESIDENTIAL LOCATION CHOICE

Jurnal ini membahas mengenai efek jangka panjang kenaikan harga bahan bakar. Dalam penelitian ini, dilakukan beberapa percobaan percobaan. Percobaan pertama ialah penelitian tentang dampak dari perubahan harga atas kepemilikan kendaraan, yang kemudian didapatkan hasil bahwa dengan naiknya harga bbm, masyarakat mengubah pola piker mereka. Mereka menjadi enggan untuk memakai kendaraannya atau membeli kendaraan.
Yang kedua adalah penelitian mengenai harga bahan bakar di wilayah tertentu, yang mendapatkan hasil bahwa ada perbedaan harga di wilayah pedesaaan dan perkotaan. Yaitu harga di perkotaaan lebih mahal daripada di pedesaan.Karena bedanya tingkat permintaan.
Yang ketiga adalah penelitian mengenai efek dari adanya perubahan harga di dua Negara yang berbeda. Hasilnya ialah di dua wilayah yang berbeda, antara perdesaan dan perkotaan efek perubahan harga terjadi karena sifat elastisitas di perkotaan bersifat elastic karena populasi di perkotaan lebih besar sedangkan di pedesaan bersifat in-elastis karena populasi masyarakatnya yang kecil.
Dari ketiga penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa Efek jangka panjang yang akan terjadi adalah kemungkinan pendapatan substansial dalam biaya transportasi terutama dalam harga BBM membuat orang bereaksi mengatur jarak tempuh dan mengubah jenis mobil dan memilih mesin yang lebih kecil atau lebih hemat bahan bakar seperti mobil hibrida/ diesel.
Untuk jangka panjang, elastisitas harga bensin berkisar antara -0,14sampai -0,54 dan diesel 0,32. diesel disini merupakan bahan pengganti yang disebabkan oleh responden yang mengganti mobil BBMnya jadi mobil diesel.
Harga BBM naik tidak berarti menaikan atau menurunkan permintaan dari BBM tersebut, masyarakat lebih melihat efisiensi dari penggunaan bahan bakar yaitu dengan menggantinya dengan diesel.


DETERMINANTS OF INDONESIAN PALM OIL EXPORT : PRICE AND INCOME ELASTICITY ESTIMATION

Indonesia adalah produsen dan eksportir terbesar minyak sawit di dunia karena berhasil menguasai 46% pangsa pasar minyak sawit dunia. Sebagian besar dari produksinya diekspor. Sehingga, memperkirakan elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari permintaan untuk ekspor minyak sawit Indonesia sangat penting. Hal itu terlihat jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Malaysia, Indonesia mengekspor minyak sawit lebih banyak di banding dengan negara Malaysia dikarenakan factor lahan di Indonesia yang lebih luas dan memungkinkan untuk di tanami kelapa sawit lebih banyak.  Melalui penelitian ini, elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari permintaan ekspor minyak sawit Indonesia adalah inelastic baik untuk jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek untuk ekspor sebesar 0,54 dan untuk income sebesar 0,61. Serta jangka panjang untuk ekspor sebesar 0,41 dan untuk income sebesar 0,49. Temuan ini sesuai dengan teori pada pangsa pasar, alokasi anggaran, dan penggunaan dari minyak sawit sebagai bahan baku untuk barang-barang seperti kosmetik, minyak goreng, margarine, dan ketersediaan dari barang substitusi untuk ekspor minyak sawit Indonesia. Temuan ini penting untuk:
·         strategi pemasaran seperti diferensiasi produk (produk dengan nilai tambah) sehingga menciptakan layanan khusus untuk konsumen yang loyal dan meningkatkan standar kualitas
·         kebijakan pemerintah (kebijakan perdagangan dan peraturan domestic) harus diterapkan    oleh pemerintah Indonesia untuk mendukung ekspansi minyak sawit di Indonesia
 Pajak ekspor adalah salah satu dari kebijakan yang diterapkan oleh Indonesia untuk minyak sawit agar mengendalikan harga minyak goreng local. Untuk kebijakan domestic dapat diterapkan dalam berbagai bentuk seperti subsidi produksi, program insentif pada penelitian diferensiasi produk (produk bernilai tambah), dan meningkatkan standar kualitas untuk ekspor minyak sawit Indonesia. Di masa yang akan datang, terdapat kebutuhan untuk menganalisis elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari produk-produk yang menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku, terfokus pada sektor-sektor yang berlainan (perbedaan antara CPO dan minyak sawit murni) pada kasus-kasus negara pengimpor yang lebih spesifik dan menganalisa dalam penawaran ekspor dan model-model yang simultan.
Dari kasus diatas dapat disimpulkan bahwa inelastic pada minyak sawit terjadi karena beberpa hal berikut ini, diantaranya ialah karena efek barang substitusi terhadap perubahan harga tidak terlalu besar dan pilihan produk-produk lainnya sebagai barang pengganti jumlahnya tidak banyak.

PLAYING WITH FIRE ; CIGARETTES TAXES AND COMPETITION FROM THE INTERNET
            Jurnal ini mengulas hasil penelitian oleh seorang peneliti yang menganggap harga rokok bersifat inelastic sehingga menaikkan pajak dan dapat menghasilkan banyak pendapatan di Amerika Serikat. Namun kendalanya ialah bahwa rokok sekaligus menjadi salah satu penyebab utama masalah kesehatan di Negara ini.
Penawaran akan rokok ini kemudian dibubungkan dengan adanya internet konsumen dapat membeli rokok dari negara lain atau secara online sehingga konsumen tidak perlu membayar pajak kepada negaranya. Tingkat elastistasnya juga meningkat dari -1,28 menjadi -2,09 walaupun pajak sudah di naikkan 33%. Pajak yang lebih tinggi menyebabkan penyelundupan lebih besar dan jumlah penyelundupan tambahan telah tumbuh secara signifikan dengan munculnya Internet. Karena setelah di teliti jumlah penyelundupan yang timbul dari perubahan tarif pajak negara hampir dua kali lipat karena munculnya internet.  
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pajak rokok tdak sensitif terhadap permintaan rokok di Amerika Serikat. Dengan adanya internet juga membuat pendapatan negara menjadi kecil dan tidak mengurangi tingkat konsumen menjaga kesehatannya.

LIFE INSURANCE DEMAND DETERMINANTS
Saat terjadinya krisis ekonomi, permintaan akan asuransi di Asia bersifat elastis. Hal ini disebabkan karena dengan adanya krisis, maka perekonomian terganggu dan mengurangi pendapatan masyarakat di Asia. Rendahnya pendapatan membuat standar hidup masyarakat asia pada kala itu rrendah, dengan pendapatan yang rendah mereka hanya mengutamakan untuk konsumsi.Maka perubahan harga asuransi akan sangat mempengaruhi jumlah permintaan akan asuransi.
Kemudian, dengan adanya perbaikan ekonomi setelah adanya  krisis membuat pendapatan masyarakat asia terus meningkat dan memiliki pendapatan yang cukup tinggi sehingga membuat standar hidup masyarakat semakin tinggi dan makin sadar akan pentingnya asuransi. Dengan demikian, permintaan terhadap asuransi pasca krisis ekonomi hinggga kini bersifat inelastic, atau perubahan harga asuransi tidak akan terlalu mempengaruhi jumlah permintaannya.

TRADE LIBERALIZATION AND LABOR DEMAND ELASTICITY IN INDIAN MANUFACTURING

Jurnal ini membahas tentang Elastisitas, yang menyebutkan bahwa elstisitas pada permintaan tenaga kerja di industri pasca reformasi lebih rendah dalam hal ini ialah minimumnya lapangan pekerjaan yang tidak dapat meresap semua labor maka dari itu tingkat labor mengalami kenaikan pada masa pascareformasi. Hal ini disebabkan karena ukuran yang signifikan untuk liberalisasi perdagangan dan melemahnya kekuasaan serikat buruh.
Liberalisasi perdagangan menunjukan efek positif terhadap elastisitas permintaan tenaga kerja tetapi jika dilihat berdasarkan fungsi kerja, hal itu tidak menunjukan peningkatan elastisitas permintaan tenaga kerja pada masa pasca reformasi dibandingkan dengan periode sebelum reformasi. Liberalisasi perdagangan juga dapat menyebabkan penurunan pangsa biaya tenaga kerja karena barang produksi yg setengah jadi atau belum dirakit produk dapat diimpor oleh perusahaan industri untuk digunakan dalam proses produksi bukan manufaktur dari tahap bahan baku, dan ini dapat menetralisir efek peningkatan elastisitas substitusi antara input dan elastisitas harga meningkatnya permintaan untuk produk-produk dari perusahaan industri dalam negeri.
Dengan demikian, liberalisasi perdagangan meningkatkan elastisitas permintaan tenaga kerja. liberalisasi perdagangan memiliki dampak positif pada elastisitas permintaan tenaga kerja di industri India, elastisitas taksiran masa pasca-reformasi ini ditemukan lebih rendah dari itu untuk periode pra-reformasi. Pemeriksaan yang mendekati data ini menunjukkan bahwa ada kecenderungan penurunan elastisitas permintaan tenaga kerja di industri India di masa pra-reformasi, yang berlangsung selama beberapa tahun bahkan setelah mulai reformasi. Tampaknya tren penurunan elastisitas permintaan tenaga kerja ditangkap dan terbalik sejak pertengahan 1990-an.
Jadi, Perdagangan bebas dan permintaan tenaga kerja di Industry india bersifat elastis  karena permintaan akan tenaga kerja di India pada masa pasca reformasi mengalami peningkatan sedangkan biaya atau gaji untuk tenaga kerja selalu mengalami penunan.

PRICE AND INCOME ELASTICITY OF RECIDENTIAL WATER DEMAND
Tahun 2011 terdapat sebuah permasalahan mengenai elastisitas permintaan terhadap air di USA dan Eropa. Hal ini terjadi karena mulai diterapkan penggunaan tarif untuk pemakaian air di setiap perumahan. Ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara elastisitas harga dan elastisitas penghasilan karena bila digambarkan elastisitasnya mendekati 0. Nilai elastisitas yang mendekati 0 disebabkan oleh pemakaian air yang tidak terkontrol sehingga terjadi ketidaksesuaian antara jumlah air yang dipasok dengan jumlah air yang dipakai. Tentunya di kemudian hari akan menyebabkan kelangkaan.
Penelitian diadakan di USA untuk mengurangi kesenjangan di elastisitas tersebut dengan menggunakan metode “increasing block rate tarif” yang hasilnya adalah kebutuhan air menjadi lebih elastis dan elastisitas pendapatan menurun dan metode “decreasing block rate tarif” yang hasilnya berbanding terbalik dengan metode increasing block rate tarif. Namun, kenyataannya kedua metode ini tidak dapat menentukan mana yang akan menghasilkan elastisitas tertinggi karena hal ini bergantung pada kompleksitas  kondisi geografis.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar