Rabu, 07 Maret 2012

PROPOSAL RISET


Judul              : Memenangkan Kompetisi di Era Globalisasi
Tema              : Keunggulan kompetitif

Latar Belakang

            Globalisasi, sebagai suatu fenomena, dimana tidak lagi dikenal adanya sekat yang memberikan batas batas nasionalisme menciptakan banyak perubahan dalam berbagai hal termasuk dalam perkembangan Industri di Indonesia dewasa ini, bila dilihat dari sisi positif maraknya globalisasi memberikan implikasi dan pengaruh yang besar terhadap kemajuan dan perkembangan dalam dunia Industri, yang menciptakan suatu suasana kompetitif yang memaksa untuk harus selalu berinovasi dalam persaingan yang semakin ketat
 Berkembangnya teknologi seiring dengan Globalisasi yang terjadi di dalam dunia Industri yang kian memberikan kemudahan dari waktu ke waktu, memberikan suatu tantangan baru bagi dunia Industri untuk selalu berinovasi dan menciptakan suatu yang baru, mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang mengharapkan kemudahan, namun tetap dapat memperhatikan kepentingan profit perusahaan. Dari sini muncul suatu persaingan di dalam dunia Industri, dimana berbagai jenis perusahan berlomba-lomba menciptakan inovasi dalam meningkatkan efisiensi untuk dapat berada dalam posisi yang kuat di dalam dunia industri dalam rangka memperoleh keuntungan yang maksimal dan berkesinambungan. Untuk itu diperlukan adanya suatu daya dan upaya yang perlu dilakukan oleh suatu perusahaan, sebagai suatu syarat wajib dalam rangka memenangkan kompetisi di dalam dunia Industri yang semakin ketat dari waktu ke waktu. Upaya yang dapat ditempuh antara lain ialah dengan menciptakan suatu hubungan kerjasama antar sesama perusahaan dalam hubungan pekerjaan dengan manajemen yang baik, serta mempelajari kemungkinan kemungkinan yang terjadi dalam dunia industry dari suatu paradox dan pertentangan yang terjadi.

Permasalahan

Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, bahwa dalam menciptakan suatu posisi yang kuat atas sebuah perusahaan, agar dapat terus bertahan didalam persaingan global yang semakin ketat seiring dengan perkembangan teknologi yang selalu berkembang dari waktu ke waktu, diperlukan adanya suatu daya dan upaya. Diantaranya ialah bagaimana suatu perusahaan dapat menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan sejenis lainnya, dengan tidak mengesampingkan tujuan utama perusahaan, yaitu memperoleh keuntungan yang maksimum. Hal ini berkaitan dengan, bagaimana suatu perusahaan mampu membaca perilaku pesaing sekaligus memperoleh manfaat dari keunggulan pesaing. Sebagai contoh ialah hubungan antara Dell computer Corporation dan Lenovo, dimana Dell membeli komponen dari Lenovo untuk kepentingan produksinya, meskipun mereka berdua adalah merupakan perusahaan produsen computer pribadi yang saling bersaing. Serta hubungan antara Sony Coorporation dan Konika Minolta Holdings Inc. yang bekerja sama mengembangkan kamera Single Lens Reflect (SLR) dimana keduanya perusahaan tersebut saling bersaing.
Selain itu, kemampuan suatu perusahaan dalam mempertahankan kinerjanya agar tetap survive di dalam dunia Industri dapat dilihat dari bagaimana mereka mampu mengambil sebuah keputusan dari berbagai paradox yang terjadi, misalnya ialah, bagaimana suatu perusahaan dapat meningkatkan kualitas produk agar tidak kalah dipasaran baik dari sisi inovasi maupun efisinsi sebagaimana diharapkan oleh pasar, tetapi juga harus mempertimbangkan bagaimana menekan biaya untuk meningkatkan revenue.
Di pasar Asia, dalam 5 tahun belakang ini barang-barang buatan Cina mulai dari tekstil sampai dengan motor semakin membanjiri pasar di negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Demikian juga, Vietnam sudah mulai menandingi Indonesia dalam ekspor beberapa komoditas traditional seperti kopi dan tekstil. Di pasar UE, peluang pasar ekspor Indonesia di wilayah tersebut terancam oleh 8 negara Eropa Timur yang akan menjadi anggota UE pada awal Mei 2004. Kedelapan negara tersebut lebih mampu menembus pasar UE karena mendapat fasilitas pembebasan bea masuk (BM). Sementara itu, barang-barang ekspor Indonesia masih dikenai BM dan hambatan-hambatan non-tarif (NTB) lainnya, seperti dari segi kesehatan dan lingkungan hidup. Selain itu, setidaknya ada 10 produk ekspor Indonesia yang dikenai tuduhan dumping oleh UE. Selain itu, jarak yang lebih dekat sehingga biaya transportasi dan harga produk dari para pesaing tersebut lebih murah. Proses penyerahan barang pun singkat. Dengan kata lain karena jarak yang lebih dekat membuat para pesaing dari Eropa Timur itu lebih efisien dalam memasuki pasar UE. Hal tersebut menjadi ancaman besar bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia yang apabila tidak memiliki keunggulan kompetitif yang baik maka produk yang mereka hasilkan akan kalah dalam persaingan dengan perusahaan-perusahaan ekspor.
Hal hal sebagaimana disebutkan diatas adalah merupakan suatu masalah yang mendasar dalam sebuah perusahaan dalam rangka meningkatkan kinerjanya yang harus dikelola dengan suatu system menejemen yang baik.


Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor apa sajakah yang bisa menyebabkan suatu perusahaan dapat tampil lebih unggul dibandingkan dengan perusahaan lainnya di dalam persaingan dunia industry seiring dengan kemajuan teknologi dan maraknya globalisasi. Serta bagaimana memecahkan masalah masalah persaingan dalam dunia industry dengan suatu manajemen yang baik, Sehingga hasil dari analisis tersebut bisa dimanfaatkan dan diaplikasikan oleh perusahaan, yang kemudian berimbas baik bagi perusahaan tersebut untuk mendapat keuntungan yang lebih banyak lagi.
Dari penelitian ini juga diharapkan agar perusahaan dapat menanggapi secara positif sebuah paradox yang mungkin terjadi dalam sebuah persaingan bisnis dengan mengelola kedua hal yang bertentangan tersebut secara paralel dan bersama sama dalam suatu waktu dengan tidak mengesampingkan hal yang lainnya. Karena paradox, sebagai dua hal yang saling bertentangan seperti bagaimana mengembangkan produk dalam biaya yang ideal adalah bukan merupakan suatu opsi untuk memilih salah satu dari keduanya. Namun, merupakan dua hal yang harus dikelola dengan baik, agar keuntungan dari keduanya dapat tercipta.

Review Riset Terdahulu
Proposal riset ini, dikembangkan melalui dua jenis jurnal yang berkaitan dengan competisi di dalam dunia industry yang berjudul “Understanding and Managing Compound Relationships Between Firms” dan “paradox, Organizational Competencies and Sustained Competitive Advantage”. Dimana kedua makalah tersebut dikembangkan berdasarkan hasil dari riset terdahulu, yaitu penelitian yang pernah dilakukan oleh Lado, Boyd, & Wright, 1992; Lado & Wilson, 1994 yang membahas bagaimana dua hal yang bertentangan (paradoks) dapat digunakan untuk proses membangun teori dan memperluas model berbasis kompetensi yang kemudian melihat bagaimana implikasinya untuk toeri manajemen strategis dan penelitian. Selain itu juga mempertimbangkan bagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Dwyer Schurr dan Oh tahun 1987 yang meneliti tentang pentingnya mempertimbangkan suatu hubungan dalam pemasaran. Johanson dan Seines tahun 2004 dan Reinhartz dan Ramaswamy tahun 2000 yang menganalisis Costumer Relationship Management sebagai suatu konstruksi yang kuat di dalam pemasaran. Wuyts, Stermersch, Van Den Bulte dan Franses tahun 2004 yang meneliti bagaimana hubungan antara vendor dan pemasok akan berpengaruh pada kesediaan pelanggan untuk terlibat dalam hubungan yang erat dengan vendor. Serta jurnal oleh Varga dan Lusch tahun 2004 yang menunjukkan adanya logika dominan baru yang muncul dalam disiplin pemasaran yaitu suatu kepentingan mengelola hubungan eksternal.

Metodologi
Data
Data yang digunakan merupakan data sekunder dari beberapa literature yang berkaitan dengan “kompetisi dalam dunia industry”. Data yang didapat bersifat deskriptif yang kemudian diolah dengan metode eksploratif, dengan melihat penerapan yang terjadi di dalam dunia industri pada kenyataannya. 
Variabel
Variable dalam penelitian ini adalah bagaimana kinerja dan kompentensi yang dimiliki oleh suatu perusahaan secara keseluruhan. Selain itu juga memperhatikan berbagai jenis pengelolaan hubungan sederhana antara suatu perusahaan dan perusahaan lainnya seperti misalkan bagaimana hubungan pelanggan dan pemasok, antara pesaing dan pesaing lainnya, dll seperti yang telah diilustrasikan dalam bagan berikut ini:
Model Penelitian
Model penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif yaitu memberikan gambaran secara jelas mengenai bagaimana mengelola upaya-upaya yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan agar bisa unggul dibandingkan dengan perusahaan lain dalam dunia industri, dengan mengolah data dari berbagai literature yang kemudian digeneralisasi dan dihasilkan sebuah kesimpulan

Sumber Jurnal:
Understanding and Managing Compound Relationships Between Firms
Paradox, Organizational Competencies and Sustained Competitive Advantage


Kamis, 01 Maret 2012

Analisis Jurnal 2

I.                   ANALISIS JURNAL
I.1        Judul                          : Paradox, Organizational Competencies and Sustained Competitive Advantage
I.2        Nama Pengarang      : Augustine A. Lado, Nancy Boyd-Lillie, Mark Kroll, dan Peter Wright (Cleveland State University College of Business Administration Departement of Management and Labor Relation)
II.                TEMA
Keunggulan Kompetitif

Analisis Jurnal

I.                   ANALISIS JURNAL
I.1        Judul                          : “Understanding and Managing Compound Relationships Between “Firms
I.2        Nama Pengarang      :
·         William T. Ross, Jr. (Proffesor of Marketing Smeal College of Business Administration Pennyslavania State University)
·         Diana C. Robertson (Professor of Organization and Management Goizueta Business School Emory University)
I.3        Tahun                         : Novermber 2005

II.                TEMA
Tulisan ini membahas mengenai jenis jenis hubungan antar perusahaan, pentingnya mempertimbangkan suatu hubungan antar perusahaan yang saling bekerjasama serta bagaimana mengkoordinir dan mengatur hubungan antar perusahaan tersebut.

Review Jurnal 2


Paradox, Organizational Competencies and Sustained Competitive Advantage

Oleh : Agustine A. Lado (Claveland State University College of Business Administration Departement of Management and Labor Relations)

Manajemen paradoks adalah salah satu yang paling penting dari semua aktivitas manusia (Mitroff, 1995: 749). Dalam lingkungan yang selalu kompleks dan turbulen, perusahaan akan naik atau turun secara fundamental didasarkan pada kemampuan mereka untuk diferensial mengelola paradoks (Handy, 1994; Price Waterhouse Tim Perubahan Integrasi, 1996).
Paradoks dipandang sebagai proses yang berkelanjutan menjadi, hasil dari kontradiksi menentang kecenderungan yang akhirnya menyelesaikan menjadi sebuah 'kecenderungan' sementara baru. Dalam studi empiris, Dennison, Hooijberg, dan Quinn (1995) menunjukkan bahwa manajer yang menunjukkan dan menggunakan repertoar paradoks peran dan perilaku dalam strategi, dinilai lebih efektif daripada mereka yang menunjukkan harmonis, non-paradoks peran dan perilaku.

Review Jurnal


UNDERSTANDING AND MANAGING COMPOUND RELATIONSHIP

Oleh     :
·         William T. Ross, Jr. (Proffesor of Marketing Smeal College of Business Administration Pennyslavania State University)

·         Diana C. Robertson (Professor of Organization and Management Goizueta Business School Emory University)

 
Dalam jurnal ini dibahas mengenai jenis jenis hubungan antar perusahaan, pentingnya mempertimbangkan suatu hubungan antar perusahaan yang saling bekerjasama serta bagaimana mengkoordinir dan mengatur hubungan antar perusahaan tersebut.
Di dalam dunia bisnis, dikenal adanya suatu hubungan sederhana antara suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya misalnya ialah hubungan antara pemasok kepada pelanggan atau sebaliknya, hubungan antara dua perusahaan atau lebih yang saling bersaing ataupun suatu mitra perusahaan dengan mitra lainnya. Masing masing hubungan ini memiliki peran yang penting dalam mencari peluang atau memberikan tantangan baru bagi suatu perusahaan untuk berkembang.
Hubungan antara dua perusahaan secara sederhana dapat dirumuskan sebagai hubungan yang terjadi pada hubungan antar pemasok dan pelanggan, pesaing dengan pesaing atau mitra bersama seperti durumuskan pada gambar berikut

Jumat, 17 Februari 2012

Analisis Jurnal : Elastisitas



THE IMPACT OF FOOD PRICES ON CONSUMPTION: A SYSTEMATIC REVIEW OF REASERCH ON THE PRICE ELASTICITY OF DEMAND FOR FOOD

Penelitian ini dilakukan oleh seorang peneliti yang berusaha menganalisis tentang perilaku dan gaya hidup masyarakat di Amerika serikat akan konsumsi bahan makanan yang kurang sehat dengan bahan makanan sehat. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri dampak dari elastisitas harga barang terhadap permintaan akan suatu jenis makanan. Dengan tujuan untuk merubah gaya hidup masyarakat di Amerika Serikat dengan meningkatkan konsumsi bahan makanan sehat dan menurunkan konsumsi bahan makanan yang kurang sehat.
Fenomena yang terjadi di Amerika Serikat adalah, elastisitas harga pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat. Berdasarkan studi,31% yang memberikan perkiraan elastisitas harga daging sapi, 29% untuk daging babi, 14% untuk unggas, 10% untuk ikan, 15% untuk susu, 12% untuk keju, untuk sereal 12%, dan untuk buah dan sayuran 11%. Dari sini terlihat bahwa konsumsi pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat.
Dalam kasus ini, peneliti mengobservasi perubahan permintaan yang mungkin dapat terjadi dengan pemberlakuan kebijakan pajak dan subsidi. Dengan menetapkan sejumlah pajak kepada bahan makanan yang kurang sehat, maka diharapkan permintaan akan bahan makanan yang kurang sehat menurun seiring dengan kenaikan harga karena pajak. Sebaliknya subsidi diberikan kepada bahan makanan sehat dengan tujuan untuk menurunkan harga sehingga permintaan akan bahan makanan sehat dapat meningkat, sehingga diharapkan dapat mengubah gaya hidup masyarakat Amerika Serikat menjadi lebih baik.
Setelah dilakukan pemberlakuan subsidi terhadap harga buah dan sayur mayur menyebabkan penurunan harga sebesar 10%, dan berhasil meningkatkan permintaan akan buah dan sayur sebesar 7,0% untuk buah dan 5,8% untuk sayur, besarnya penurunan harga rupanya tidak meningkatkan permintaan secara signifikan sehingga harga buah dan sayur dikatakan inelastis.
Dalam hal ini jelas terlihat bahwa permintaan tidak bergerak secara signifikan meskipun telah diberikan subsidi terhadapnya. dari kasus tersebut dapat diasumsikan bahwa, harga bukanlah satu satunya faktor yang dapat menyebabkan buruknya gaya hidup sebagian masyarakat di Amerika serikat yang dinilai dari tingginya konsumsi bahan makanan tidak sehat seperti fast food, namun ada hal lain yang mempengaruhi, salah satunya ialah gaya hidup. Orang orang di Negara maju cenderung memilih bahan makanan cepat saji dengan alasan efisiensi, sehingga meskipun harga dirubah, tetap saja tidak akan mempengaruhi permintaan akan barang barang tersebut, sehingga sayuran dan buah buahan yang tergolong bahan makanan sehat bersifat inelastic

Kamis, 02 Februari 2012

Hubungan Sunk Cost Terhadap Kerugian Perusahaan

Biaya dalam pengertian yang luas, adalah merupakan pengorbanan sumber ekonomi yang dilakukan dalam rangka memperoleh manfaat pada perolehannya. Biaya dinyatakan dalam pengurangan kas atau aktiva lainnya.
Namun diluar dari fungsi tersebut, biaya berperan dalam proses pengambilan keputusan perusahaan berkaitan dengan sejumlah alternatif yang mungkin dapat dipilih sebuah perusahaan dalam mewujudkan efisiensi.
Mengambil keputusan pada umumnya adalah sulit bagi manajemen karena permasalahan yang terjadi didalam perusahaan adalah kompleks berkaitan dengan banyaknya data yang diolah padahal hanya beberapa saja yang relevan.
Membicarakan tentang relevan, didalam akuntansi biaya dikenal dengan beberapa istilah biaya yang memiliki perbedaan yang cukup signifikan dalam pengambilan keputusan. Diantaranya ialah avoidable cost dan unavoidable cost.
Kali ini akan diulas bagaimana sunk cost sebagai bagian dari unavoidable cost memiliki pengaruh terhadap kebangkrutan perusahaan.
Sunk cost termasuk kedalam golongan unavoidable cost, adalah merupakan biaya yang tidak dapat terhindarkan, berlawanan dengan avoidable cost yang bersifat relevan artinya dapat dihilangkan baik seluruhnya atau sebagian dari biaya alternative yang tersedia. Dapat dilihat pada formula berikut
Fixed cost = sunk cost + avoidable cost
Sunk cost berbeda dengan fixed cost, contoh biaya yang merupakan sunk cost diantaranya ialah biaya tenaga kerja tidak langsung seperti gaji manager atau bagian administrasi, biaya PBB ataupun biaya riset dan pengembangan. Biaya biaya tersebut adalah bukan merupakan fixed cost tetapi bersifat unavoidable. biaya yang termasuk kedalam biaya investasi yang telah dikeluarkan dimasa lalu seperti biaya peralatan adalah merupakan sunk cost. sekalipun pada akhirnya peralatan tersebut tidak bermanfaat, dalam arti tidak menghasilkan perolehan, biaya tersebut tidak dapat dikembalikan.
Berikut adalah contoh sunk cost dalam analisis relevant cost untuk pengambilan keputusan
PT. Pete menyajikan data mesin lama dan mesin baru.
                                   Mesin Lama             Mesin  Baru
 a.Harga perolehan                    $ 17.500                    $ 20.000
 b.Umur ekonomis                       4 tahun (sisa)         4 thn
 c. Penjualan tahunan                $ 50.000                   $ 50.000
d.Biaya Variabel yaitu:
     . Operasional /Thn                   $ 34.500                   $ 30.000
 e. Nialai Jual sesudah 4 thn                 0                               0                  
 f. Nilai jual saat                      $   9.000                   ---                                               
 g. Nilai buku                             $ 14.000                   ----
        Apakah mesin lama perlu diganti dengan mesin baru?
Ada unavoidable cost dalam kasus tersebut, yaitu sunk cost berupa nilai buku sebesar 14000, biaya ini harus dikeluarkan karena bersifat tidak relevan sehingga bila mesin lama dijual akan mengalami kerugian sebesar 5000.
Contoh yang lain misalnya ialah dalam menjalankan kegiatan usaha dalam mencapai efisiensi terkadang perusahaan berusaha untuk menciptakan penemuan atau teknologi baru dalam rangka meningkatkan faktor produksi sehingga menuju efisiensi. Untuk mewujudkannya, diperluakan adanya suatu riset dan pengembangan akan penemuan tersebut. Sehingga diperlukan adanya pembiayaan. Biaya ini adalah merupakan sunk cost. Biaya Ini diharapkan akan mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang profitable sesuai dengan yang diharapkan. Namun pada kenyataannya, ada kemungkinan bahwa riset yang dilakukan tidak berhasil sehingga menciptakan kerugian. Sunk cost yang telah dikeluarkan sebelumnya pada akhirnya tidak menghasilkan perolehan dimasa mendatang.
sehingga pada akhirnya dalam kasus ini, sunk cost dapat menjadi lebih beresiko. Sehingga diperlukan perencanaan yang tepat untuk mengambil keputusan akan menciptakan teknologi baru atau menambah tenaga kerja misalnya, pilihan mana yang dapat lebih menguntungkan.
Begitu juga dengan gaji manajer atau bagian administrasi misalnya, pada saat perusahaan mengalami kebangkrutan sekalipun, biaya ini harus tetap dipertimbangkan. 


Kurva Sunk Cost
berikut merupakan hubungan antara sunk cost dan profit from project yang diwujudkan dalam kurva 



di dalam kurva dapat dilihat bagaimana besarnya sunk cost bertolak belakang dengan profit perusahaan. saat sunk cost meningkat maka profit perusahaan akan menurun seiring dengan pertambahan sunk cost. hal ini mengindikasikan bahwa saat sunk cost sebagai unavoidable cost, yaitu biaya yang tidak dapat dihilangkan atau digantikan meningkat, maka akan mengurangi profit dari perusahaan, seperti telah dijelaskan dalam beberapa kasus sebelumnya. sehingga disimpulkan bahwa besarnya sunk cost sangat berpengaruh terhadap kebangkrutan perusahaan, semakin tinggi sunk cost, maka perusahaan akan semakin potensial untuk mengalami kerugian.