Kamis, 01 Maret 2012

Analisis Jurnal

I.                   ANALISIS JURNAL
I.1        Judul                          : “Understanding and Managing Compound Relationships Between “Firms
I.2        Nama Pengarang      :
·         William T. Ross, Jr. (Proffesor of Marketing Smeal College of Business Administration Pennyslavania State University)
·         Diana C. Robertson (Professor of Organization and Management Goizueta Business School Emory University)
I.3        Tahun                         : Novermber 2005

II.                TEMA
Tulisan ini membahas mengenai jenis jenis hubungan antar perusahaan, pentingnya mempertimbangkan suatu hubungan antar perusahaan yang saling bekerjasama serta bagaimana mengkoordinir dan mengatur hubungan antar perusahaan tersebut.

Review Jurnal 2


Paradox, Organizational Competencies and Sustained Competitive Advantage

Oleh : Agustine A. Lado (Claveland State University College of Business Administration Departement of Management and Labor Relations)

Manajemen paradoks adalah salah satu yang paling penting dari semua aktivitas manusia (Mitroff, 1995: 749). Dalam lingkungan yang selalu kompleks dan turbulen, perusahaan akan naik atau turun secara fundamental didasarkan pada kemampuan mereka untuk diferensial mengelola paradoks (Handy, 1994; Price Waterhouse Tim Perubahan Integrasi, 1996).
Paradoks dipandang sebagai proses yang berkelanjutan menjadi, hasil dari kontradiksi menentang kecenderungan yang akhirnya menyelesaikan menjadi sebuah 'kecenderungan' sementara baru. Dalam studi empiris, Dennison, Hooijberg, dan Quinn (1995) menunjukkan bahwa manajer yang menunjukkan dan menggunakan repertoar paradoks peran dan perilaku dalam strategi, dinilai lebih efektif daripada mereka yang menunjukkan harmonis, non-paradoks peran dan perilaku.

Review Jurnal


UNDERSTANDING AND MANAGING COMPOUND RELATIONSHIP

Oleh     :
·         William T. Ross, Jr. (Proffesor of Marketing Smeal College of Business Administration Pennyslavania State University)

·         Diana C. Robertson (Professor of Organization and Management Goizueta Business School Emory University)

 
Dalam jurnal ini dibahas mengenai jenis jenis hubungan antar perusahaan, pentingnya mempertimbangkan suatu hubungan antar perusahaan yang saling bekerjasama serta bagaimana mengkoordinir dan mengatur hubungan antar perusahaan tersebut.
Di dalam dunia bisnis, dikenal adanya suatu hubungan sederhana antara suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya misalnya ialah hubungan antara pemasok kepada pelanggan atau sebaliknya, hubungan antara dua perusahaan atau lebih yang saling bersaing ataupun suatu mitra perusahaan dengan mitra lainnya. Masing masing hubungan ini memiliki peran yang penting dalam mencari peluang atau memberikan tantangan baru bagi suatu perusahaan untuk berkembang.
Hubungan antara dua perusahaan secara sederhana dapat dirumuskan sebagai hubungan yang terjadi pada hubungan antar pemasok dan pelanggan, pesaing dengan pesaing atau mitra bersama seperti durumuskan pada gambar berikut

Jumat, 17 Februari 2012

Analisis Jurnal : Elastisitas



THE IMPACT OF FOOD PRICES ON CONSUMPTION: A SYSTEMATIC REVIEW OF REASERCH ON THE PRICE ELASTICITY OF DEMAND FOR FOOD

Penelitian ini dilakukan oleh seorang peneliti yang berusaha menganalisis tentang perilaku dan gaya hidup masyarakat di Amerika serikat akan konsumsi bahan makanan yang kurang sehat dengan bahan makanan sehat. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri dampak dari elastisitas harga barang terhadap permintaan akan suatu jenis makanan. Dengan tujuan untuk merubah gaya hidup masyarakat di Amerika Serikat dengan meningkatkan konsumsi bahan makanan sehat dan menurunkan konsumsi bahan makanan yang kurang sehat.
Fenomena yang terjadi di Amerika Serikat adalah, elastisitas harga pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat. Berdasarkan studi,31% yang memberikan perkiraan elastisitas harga daging sapi, 29% untuk daging babi, 14% untuk unggas, 10% untuk ikan, 15% untuk susu, 12% untuk keju, untuk sereal 12%, dan untuk buah dan sayuran 11%. Dari sini terlihat bahwa konsumsi pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat.
Dalam kasus ini, peneliti mengobservasi perubahan permintaan yang mungkin dapat terjadi dengan pemberlakuan kebijakan pajak dan subsidi. Dengan menetapkan sejumlah pajak kepada bahan makanan yang kurang sehat, maka diharapkan permintaan akan bahan makanan yang kurang sehat menurun seiring dengan kenaikan harga karena pajak. Sebaliknya subsidi diberikan kepada bahan makanan sehat dengan tujuan untuk menurunkan harga sehingga permintaan akan bahan makanan sehat dapat meningkat, sehingga diharapkan dapat mengubah gaya hidup masyarakat Amerika Serikat menjadi lebih baik.
Setelah dilakukan pemberlakuan subsidi terhadap harga buah dan sayur mayur menyebabkan penurunan harga sebesar 10%, dan berhasil meningkatkan permintaan akan buah dan sayur sebesar 7,0% untuk buah dan 5,8% untuk sayur, besarnya penurunan harga rupanya tidak meningkatkan permintaan secara signifikan sehingga harga buah dan sayur dikatakan inelastis.
Dalam hal ini jelas terlihat bahwa permintaan tidak bergerak secara signifikan meskipun telah diberikan subsidi terhadapnya. dari kasus tersebut dapat diasumsikan bahwa, harga bukanlah satu satunya faktor yang dapat menyebabkan buruknya gaya hidup sebagian masyarakat di Amerika serikat yang dinilai dari tingginya konsumsi bahan makanan tidak sehat seperti fast food, namun ada hal lain yang mempengaruhi, salah satunya ialah gaya hidup. Orang orang di Negara maju cenderung memilih bahan makanan cepat saji dengan alasan efisiensi, sehingga meskipun harga dirubah, tetap saja tidak akan mempengaruhi permintaan akan barang barang tersebut, sehingga sayuran dan buah buahan yang tergolong bahan makanan sehat bersifat inelastic

Kamis, 02 Februari 2012

Hubungan Sunk Cost Terhadap Kerugian Perusahaan

Biaya dalam pengertian yang luas, adalah merupakan pengorbanan sumber ekonomi yang dilakukan dalam rangka memperoleh manfaat pada perolehannya. Biaya dinyatakan dalam pengurangan kas atau aktiva lainnya.
Namun diluar dari fungsi tersebut, biaya berperan dalam proses pengambilan keputusan perusahaan berkaitan dengan sejumlah alternatif yang mungkin dapat dipilih sebuah perusahaan dalam mewujudkan efisiensi.
Mengambil keputusan pada umumnya adalah sulit bagi manajemen karena permasalahan yang terjadi didalam perusahaan adalah kompleks berkaitan dengan banyaknya data yang diolah padahal hanya beberapa saja yang relevan.
Membicarakan tentang relevan, didalam akuntansi biaya dikenal dengan beberapa istilah biaya yang memiliki perbedaan yang cukup signifikan dalam pengambilan keputusan. Diantaranya ialah avoidable cost dan unavoidable cost.
Kali ini akan diulas bagaimana sunk cost sebagai bagian dari unavoidable cost memiliki pengaruh terhadap kebangkrutan perusahaan.
Sunk cost termasuk kedalam golongan unavoidable cost, adalah merupakan biaya yang tidak dapat terhindarkan, berlawanan dengan avoidable cost yang bersifat relevan artinya dapat dihilangkan baik seluruhnya atau sebagian dari biaya alternative yang tersedia. Dapat dilihat pada formula berikut
Fixed cost = sunk cost + avoidable cost
Sunk cost berbeda dengan fixed cost, contoh biaya yang merupakan sunk cost diantaranya ialah biaya tenaga kerja tidak langsung seperti gaji manager atau bagian administrasi, biaya PBB ataupun biaya riset dan pengembangan. Biaya biaya tersebut adalah bukan merupakan fixed cost tetapi bersifat unavoidable. biaya yang termasuk kedalam biaya investasi yang telah dikeluarkan dimasa lalu seperti biaya peralatan adalah merupakan sunk cost. sekalipun pada akhirnya peralatan tersebut tidak bermanfaat, dalam arti tidak menghasilkan perolehan, biaya tersebut tidak dapat dikembalikan.
Berikut adalah contoh sunk cost dalam analisis relevant cost untuk pengambilan keputusan
PT. Pete menyajikan data mesin lama dan mesin baru.
                                   Mesin Lama             Mesin  Baru
 a.Harga perolehan                    $ 17.500                    $ 20.000
 b.Umur ekonomis                       4 tahun (sisa)         4 thn
 c. Penjualan tahunan                $ 50.000                   $ 50.000
d.Biaya Variabel yaitu:
     . Operasional /Thn                   $ 34.500                   $ 30.000
 e. Nialai Jual sesudah 4 thn                 0                               0                  
 f. Nilai jual saat                      $   9.000                   ---                                               
 g. Nilai buku                             $ 14.000                   ----
        Apakah mesin lama perlu diganti dengan mesin baru?
Ada unavoidable cost dalam kasus tersebut, yaitu sunk cost berupa nilai buku sebesar 14000, biaya ini harus dikeluarkan karena bersifat tidak relevan sehingga bila mesin lama dijual akan mengalami kerugian sebesar 5000.
Contoh yang lain misalnya ialah dalam menjalankan kegiatan usaha dalam mencapai efisiensi terkadang perusahaan berusaha untuk menciptakan penemuan atau teknologi baru dalam rangka meningkatkan faktor produksi sehingga menuju efisiensi. Untuk mewujudkannya, diperluakan adanya suatu riset dan pengembangan akan penemuan tersebut. Sehingga diperlukan adanya pembiayaan. Biaya ini adalah merupakan sunk cost. Biaya Ini diharapkan akan mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang profitable sesuai dengan yang diharapkan. Namun pada kenyataannya, ada kemungkinan bahwa riset yang dilakukan tidak berhasil sehingga menciptakan kerugian. Sunk cost yang telah dikeluarkan sebelumnya pada akhirnya tidak menghasilkan perolehan dimasa mendatang.
sehingga pada akhirnya dalam kasus ini, sunk cost dapat menjadi lebih beresiko. Sehingga diperlukan perencanaan yang tepat untuk mengambil keputusan akan menciptakan teknologi baru atau menambah tenaga kerja misalnya, pilihan mana yang dapat lebih menguntungkan.
Begitu juga dengan gaji manajer atau bagian administrasi misalnya, pada saat perusahaan mengalami kebangkrutan sekalipun, biaya ini harus tetap dipertimbangkan. 


Kurva Sunk Cost
berikut merupakan hubungan antara sunk cost dan profit from project yang diwujudkan dalam kurva 



di dalam kurva dapat dilihat bagaimana besarnya sunk cost bertolak belakang dengan profit perusahaan. saat sunk cost meningkat maka profit perusahaan akan menurun seiring dengan pertambahan sunk cost. hal ini mengindikasikan bahwa saat sunk cost sebagai unavoidable cost, yaitu biaya yang tidak dapat dihilangkan atau digantikan meningkat, maka akan mengurangi profit dari perusahaan, seperti telah dijelaskan dalam beberapa kasus sebelumnya. sehingga disimpulkan bahwa besarnya sunk cost sangat berpengaruh terhadap kebangkrutan perusahaan, semakin tinggi sunk cost, maka perusahaan akan semakin potensial untuk mengalami kerugian.


Kamis, 26 Januari 2012

ANALISIS JURNAL


TEORI EKONOMI 2
ANALISIS JURNAL

I.                   Judul
ANALISIS EFISIENSI TEKNIK USAHA BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN KERAPU DALAM KERAMBA JARING APUNG DI PERAIRAN TELUK LAMPUNG: Produktifitas, Faktor Faktor yang Mempengaruhi dan Implikasi Kebijakan Pengembangan Budidayanya
II.                Pengarang
Tajerin dan Mohammad Noor
III.             Tahun
2005
IV.             Tema
Analisis Efisiensi Pengembangan Usaha Daerah
V.                Latar Belakang Masalah
V.1. Fenomena
Pembudidayaan ikan, di dalam kegiatan produksi bertujuan untuk memaksimumkan keuntungan usaha. Perolehan keuntungan maksimum sangat berkaitan dengan efisiensi dalam berproduksi. Secara empiris hampir semua pembudidaya ikan adalah sebagai penerima harga  (price taker) dalam pasar masukan (input) maupun keluaran (output) karena sangat jarang dijumpai sekumpulan pembudidaya ikan mampu mengorganisasi kelompoknya, sehungga mempunyai posisi tawar yang kuat di pasar. Dalam praktek sehari-hari orientasi para pembudidaya ikan dalam suatu komunitas dan ekosistem yang relative homogeny cenderung mengejar efisiensi teknis yang dalam kehidupan sehari-hari diterjemahkan sebagai upaya memaksimalkan produktivitas. Untuk kasus usaha budidaya ikan kerapu dalam keramba jaring apung di Propinsi Lampung, penentuan kondisi tingkat efisiensi teknis dipandang perlu karena berkaitan dengan strategi pengembangan system usaha dan peningkatan produktivitas budidaya kerapu ke depan, apakah sebaiknya mengarah pada penerapan sistem intensifikasi atau ekstensifikasi. Untuk itu, perlu dilakukan analisis efisiensi teknis usaha budidaya ikan kerapu dalam keramba jaring apung di Propinsi Lampung.


Rabu, 25 Januari 2012

Game Theory


GAME THEORY

Latar Belakang dan Definisi
Teori permainan adalah suatu bentuk pendekatan matematis untuk merumuskan situasi persaingan dan konflik antara berbagai persaingan. Teori ini dikembangkan untuk menganalisa proses pengambilan keputusan dari situasi persaingan yang berbeda dan melibatkan dua atau lebih kepentingan. Kepentingan kepentingan yang bersaing dalam permintaan disebut players. Pengertian diatas memberikan anggapan bahwa setiap pemain yang terlibat di dalam permainan mempunyai kemampuan dan kebebasan untuk mengambil keputusan secara rasional.
Teori permainan ini awalnya dikembangkan oleh seorang ahli matematika perancis yang bernama Emile Borel pada tahun 1921. Yang selanjutnya dikembangkan lebih lanjut oleh John Van Neemann dan Oskar Morgenstern sebagai alat untuk merumuskan perilaku ekonomi yang bersaing. John Van Neemann dan Oskar Morgenstern mengungkapkan bahwa, “Permainan terdiri atas sekumpulan peraturan yang membangun situasi bersaing dari dua sampai beberapa orang atau kelompok dengan memilih strategi yang dibangun untuk memaksimalkan kemenangan sendiri atau pun untuk meminimalkan kemenangan lawan. Peraturan-peraturan menentukan kemungkinan tindakan untuk setiap pemain, sejumlah keterangan diterima setiap pemain sebagai kemajuan bermain, dan sejumlah kemenangan atau kekalahan dalam berbagai situasi.”
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, teori bermain adalah merupakan suatu teori yang mengedepankan konsep konsep dalam suatu permainan sebagai landasan. Dimana didalam permainan terdapat peraturan, yang secara langsung mampu menciptakan situasi bersaing dan digunakan untuk mencari strategi terbaik dalam suatu aktivitas, dimana setiap pemain didalamnya sama-sama mencapai utilitas tertinggi.

Ketentuan dalam Teori Permainan
            Pada dasarnya, dalam teori permainan yang ditekankan ialah bagaimana pemain mampu menciptakan suatu strategi di dalam suatu situasi persaingan. Strategi yang kuat di dalam teori permainan ini adalah strategi yang optimal, strategi yang mampu memberikan keuntungan yang maksimal ataupun kerugian seminimal mungkin, jika mengalami kerugian. Didalam teori permainan dikenal dua karakteristik strategi yaitu :
1.      Strategi Murni (Pure Strategy Game)
Strategi yang optimal di dalam straregi murni adalah strategi tunggal, yaitu melalui aplikasi criteria maximin dan minimax. Nilai yang dicapai harus merupakan maksimum dari minimax baris dan minimum dari minimax kolom. Titik ini disebut titik pelana (saddle Point).
 Untuk lebih jelas dapat dilihat dalam kasus berikut :
Dua buah perusahan yang memiliki produk yang relatif sama, selama ini saling bersaing dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari pangsa pasar yang ada. Untuk keperluan tersebut, perusahaan A mengandalkan 2 strategi dan perusahaan B menggunakan 3 macam strategi, dan hasilnya terlihat pada tabel berikut ini. 
 
Langkah pertama
Untuk pemain baris (perusahaan A), pilih nilai yang paling kecil untuk setiap baris. Pada table diatas, baris pertama memiliki nilai terkecil “1” dan baris kedua memiliki nilai terkecil “4”. Selanjutnya dari dua nilai tersebut, pilih nilai yang paling baik atau besar yakni “4”.
Langkah kedua
Untuk pemain kolom (perusahaan B), pilih nilai yang paling besar untuk setiap kolomnya, sehingga didapatkan angka “8” untuk kolom pertama, “9” untuk kolom kedua dan “4” untuk kolom ketiga. Dari beberapa langkah diatas didapaykan angka “4” sebagai nilai permainan (saddle point) sehingga tercipta strategi yang optimal.
Hasil optimal di atas, dimana masing-masing pemain memilih nilai 4 mengandung arti bahwa pemain A meskipun menginginkan keuntungan yang lebih besar, namun A hanya akan mendapat keuntungan maksimal sebesar 4, bila ia menggunakan strategi harga mahal (S2). Sedangkan pemain B, meskipun menginginkan kerugian yang dideritanya adalah sekecil mungkin, namun kerugian yang paling baik bagi B adalah sebesar 4, dan itu bisa diperoleh dengan merespon strategi yang digunakan A dengan juga menerapkan strategi harga mahal (S3).

1.      Strategi Campuran
Strategi campuran dilakukan apabila strategi murni tidak mampu menyelesaikan memberikan pilihan strategi yang optimal bagi masing masing pemain atau perusahaan. Dalam strategi ini seorang pemain atau perusahaan  akan menhggunakan campuran lebih dari satu strategi untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Penerapan Teori Permainan
Dalam aplikasi bisnis, teori permainan menyerupai Decision of Tree dalam tujuannya untuk mencapai keputusan yang terbaik. Namun kelebihan dari penerapan teori permainan ini adalah, di dalam teori permainan memperhitungkan langkah yang akan diambil oleh pemain lainnya.
Didalam kehidupan bisnis, setiap pebisnis pasti akan selalu memikirkan rencana baru secara strategis untuk menentukan tujuan yang mencapai payoff tujuannya. Namun tidak selalu apa yang direncanakan akan berlangsung sesuai dengan yang diharapkan, jika pebisnis yang lain junga mengambil langkah yang sama, sehingga memungkinkan rencana yang dibuat menjadi tidak bekerja sama sekali.
Dalam aplikasi bisnis, Game Theory hampir sama dengan Decision Tree dalam tujuannya untuk menentukan keputusan terbaik, hanya saja Game Theory memperhitungkan langkah yang akan diambil oleh pemain lainnya ( non-parametric ). Seperti kita ketahui, setiap pemain bisnis pasti selalu memikirkan rencana baru yang strategic untuk mencapai payoff tujuannya. Masalahnya adalah, ketika pemain lainnya juga mengambil rencana yang sama maka rencana yang awalnya strategic dapat menjadi tidak bekerja sama sekali atau bahkan merugikan. Parahnya lagi, ini berlaku bagi semua pemain didalamnya.
            Teori permainan juga berlaku di dalam musyawarah untuk mufakat yang merupakan suatu cara dalam mencapai kebaikan bersama, dalam rangka memperoleh pay off yang terbaik bagi kedua belah pihak
Musyawarah adalah salah satu ciri dari solusi yang menawarkan “win-win solution” dimana semua pihak merasa puas dengan keputusan yang diambil. Dengan teori permainan maka tidak terjadi pengambilan keputusan secara sepihak yang membuat pay-off akan terasa tidak rata, dimana salah satu akan mengalami keuntungan sedangkan pihak lain mengalami kerugian. Lewat musyawarah maka kotak-kotak sependapat ataupun tidak sependapat akan diusahakan untuk ‘digeser’ ke arah kesepakatan antara dua pihak.
Harus diingat disini, bahwa hasil dari musyawarah merupakan sebuah kesepakatan, maksudnya adalah persetujuan antar 2 belah pihak, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil musyawarah adalahbukan, sependapat atau tidak sependapat. Akan tetapi, kelompok kami pada tulisan ini lebih menekankan persetujuan yang dibuat karena lebih ke masalah teknis.

sumber :