Jumat, 17 Februari 2012

Analisis Jurnal : Elastisitas



THE IMPACT OF FOOD PRICES ON CONSUMPTION: A SYSTEMATIC REVIEW OF REASERCH ON THE PRICE ELASTICITY OF DEMAND FOR FOOD

Penelitian ini dilakukan oleh seorang peneliti yang berusaha menganalisis tentang perilaku dan gaya hidup masyarakat di Amerika serikat akan konsumsi bahan makanan yang kurang sehat dengan bahan makanan sehat. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri dampak dari elastisitas harga barang terhadap permintaan akan suatu jenis makanan. Dengan tujuan untuk merubah gaya hidup masyarakat di Amerika Serikat dengan meningkatkan konsumsi bahan makanan sehat dan menurunkan konsumsi bahan makanan yang kurang sehat.
Fenomena yang terjadi di Amerika Serikat adalah, elastisitas harga pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat. Berdasarkan studi,31% yang memberikan perkiraan elastisitas harga daging sapi, 29% untuk daging babi, 14% untuk unggas, 10% untuk ikan, 15% untuk susu, 12% untuk keju, untuk sereal 12%, dan untuk buah dan sayuran 11%. Dari sini terlihat bahwa konsumsi pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat.
Dalam kasus ini, peneliti mengobservasi perubahan permintaan yang mungkin dapat terjadi dengan pemberlakuan kebijakan pajak dan subsidi. Dengan menetapkan sejumlah pajak kepada bahan makanan yang kurang sehat, maka diharapkan permintaan akan bahan makanan yang kurang sehat menurun seiring dengan kenaikan harga karena pajak. Sebaliknya subsidi diberikan kepada bahan makanan sehat dengan tujuan untuk menurunkan harga sehingga permintaan akan bahan makanan sehat dapat meningkat, sehingga diharapkan dapat mengubah gaya hidup masyarakat Amerika Serikat menjadi lebih baik.
Setelah dilakukan pemberlakuan subsidi terhadap harga buah dan sayur mayur menyebabkan penurunan harga sebesar 10%, dan berhasil meningkatkan permintaan akan buah dan sayur sebesar 7,0% untuk buah dan 5,8% untuk sayur, besarnya penurunan harga rupanya tidak meningkatkan permintaan secara signifikan sehingga harga buah dan sayur dikatakan inelastis.
Dalam hal ini jelas terlihat bahwa permintaan tidak bergerak secara signifikan meskipun telah diberikan subsidi terhadapnya. dari kasus tersebut dapat diasumsikan bahwa, harga bukanlah satu satunya faktor yang dapat menyebabkan buruknya gaya hidup sebagian masyarakat di Amerika serikat yang dinilai dari tingginya konsumsi bahan makanan tidak sehat seperti fast food, namun ada hal lain yang mempengaruhi, salah satunya ialah gaya hidup. Orang orang di Negara maju cenderung memilih bahan makanan cepat saji dengan alasan efisiensi, sehingga meskipun harga dirubah, tetap saja tidak akan mempengaruhi permintaan akan barang barang tersebut, sehingga sayuran dan buah buahan yang tergolong bahan makanan sehat bersifat inelastic

Kamis, 02 Februari 2012

Hubungan Sunk Cost Terhadap Kerugian Perusahaan

Biaya dalam pengertian yang luas, adalah merupakan pengorbanan sumber ekonomi yang dilakukan dalam rangka memperoleh manfaat pada perolehannya. Biaya dinyatakan dalam pengurangan kas atau aktiva lainnya.
Namun diluar dari fungsi tersebut, biaya berperan dalam proses pengambilan keputusan perusahaan berkaitan dengan sejumlah alternatif yang mungkin dapat dipilih sebuah perusahaan dalam mewujudkan efisiensi.
Mengambil keputusan pada umumnya adalah sulit bagi manajemen karena permasalahan yang terjadi didalam perusahaan adalah kompleks berkaitan dengan banyaknya data yang diolah padahal hanya beberapa saja yang relevan.
Membicarakan tentang relevan, didalam akuntansi biaya dikenal dengan beberapa istilah biaya yang memiliki perbedaan yang cukup signifikan dalam pengambilan keputusan. Diantaranya ialah avoidable cost dan unavoidable cost.
Kali ini akan diulas bagaimana sunk cost sebagai bagian dari unavoidable cost memiliki pengaruh terhadap kebangkrutan perusahaan.
Sunk cost termasuk kedalam golongan unavoidable cost, adalah merupakan biaya yang tidak dapat terhindarkan, berlawanan dengan avoidable cost yang bersifat relevan artinya dapat dihilangkan baik seluruhnya atau sebagian dari biaya alternative yang tersedia. Dapat dilihat pada formula berikut
Fixed cost = sunk cost + avoidable cost
Sunk cost berbeda dengan fixed cost, contoh biaya yang merupakan sunk cost diantaranya ialah biaya tenaga kerja tidak langsung seperti gaji manager atau bagian administrasi, biaya PBB ataupun biaya riset dan pengembangan. Biaya biaya tersebut adalah bukan merupakan fixed cost tetapi bersifat unavoidable. biaya yang termasuk kedalam biaya investasi yang telah dikeluarkan dimasa lalu seperti biaya peralatan adalah merupakan sunk cost. sekalipun pada akhirnya peralatan tersebut tidak bermanfaat, dalam arti tidak menghasilkan perolehan, biaya tersebut tidak dapat dikembalikan.
Berikut adalah contoh sunk cost dalam analisis relevant cost untuk pengambilan keputusan
PT. Pete menyajikan data mesin lama dan mesin baru.
                                   Mesin Lama             Mesin  Baru
 a.Harga perolehan                    $ 17.500                    $ 20.000
 b.Umur ekonomis                       4 tahun (sisa)         4 thn
 c. Penjualan tahunan                $ 50.000                   $ 50.000
d.Biaya Variabel yaitu:
     . Operasional /Thn                   $ 34.500                   $ 30.000
 e. Nialai Jual sesudah 4 thn                 0                               0                  
 f. Nilai jual saat                      $   9.000                   ---                                               
 g. Nilai buku                             $ 14.000                   ----
        Apakah mesin lama perlu diganti dengan mesin baru?
Ada unavoidable cost dalam kasus tersebut, yaitu sunk cost berupa nilai buku sebesar 14000, biaya ini harus dikeluarkan karena bersifat tidak relevan sehingga bila mesin lama dijual akan mengalami kerugian sebesar 5000.
Contoh yang lain misalnya ialah dalam menjalankan kegiatan usaha dalam mencapai efisiensi terkadang perusahaan berusaha untuk menciptakan penemuan atau teknologi baru dalam rangka meningkatkan faktor produksi sehingga menuju efisiensi. Untuk mewujudkannya, diperluakan adanya suatu riset dan pengembangan akan penemuan tersebut. Sehingga diperlukan adanya pembiayaan. Biaya ini adalah merupakan sunk cost. Biaya Ini diharapkan akan mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang profitable sesuai dengan yang diharapkan. Namun pada kenyataannya, ada kemungkinan bahwa riset yang dilakukan tidak berhasil sehingga menciptakan kerugian. Sunk cost yang telah dikeluarkan sebelumnya pada akhirnya tidak menghasilkan perolehan dimasa mendatang.
sehingga pada akhirnya dalam kasus ini, sunk cost dapat menjadi lebih beresiko. Sehingga diperlukan perencanaan yang tepat untuk mengambil keputusan akan menciptakan teknologi baru atau menambah tenaga kerja misalnya, pilihan mana yang dapat lebih menguntungkan.
Begitu juga dengan gaji manajer atau bagian administrasi misalnya, pada saat perusahaan mengalami kebangkrutan sekalipun, biaya ini harus tetap dipertimbangkan. 


Kurva Sunk Cost
berikut merupakan hubungan antara sunk cost dan profit from project yang diwujudkan dalam kurva 



di dalam kurva dapat dilihat bagaimana besarnya sunk cost bertolak belakang dengan profit perusahaan. saat sunk cost meningkat maka profit perusahaan akan menurun seiring dengan pertambahan sunk cost. hal ini mengindikasikan bahwa saat sunk cost sebagai unavoidable cost, yaitu biaya yang tidak dapat dihilangkan atau digantikan meningkat, maka akan mengurangi profit dari perusahaan, seperti telah dijelaskan dalam beberapa kasus sebelumnya. sehingga disimpulkan bahwa besarnya sunk cost sangat berpengaruh terhadap kebangkrutan perusahaan, semakin tinggi sunk cost, maka perusahaan akan semakin potensial untuk mengalami kerugian.